Blora Updates - Dikutip dari salah satu pengalaman akun facebook bernama Firmansyah Kohwan Arif. Obrolan Inspirasi ini sangat menarik dicermati tuk sekedar dirasakan, namun bukan menggurui. Obrolan antara adik kakak yang ditulis dalam laman facebook ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Ambil hikmah dan manfaatnya. Bila tidak suka abaikan saja. Berikut postingan dari akun tersebut.
Ku tulis Obrolan keluarga minggu malam kemarin.
Berikut kutipan obrolan antara kakak dan adik :
Gw : Tau Ngga Bedanya Ulama Sosmed sama Ulama bijak?.
Ita : Ngga !!!
Gw : Kalau Soal wawasan Agama, menurut kamu bagus mana antara saya sama bapak?.
Ita : Jelas Bapak lah, dia lebih bijak, ngajinya dari kecil hingga saat ini dan sudah jadi pini sepuh di kampung.
Gw : Meskipun ilmu gw masih dangkal, dan ngajinya sama Pa'e dan masih kurang banyak banget yang harus dipelajari, kira kira kalau jadi Ustad Sosmed atau Ustad selebritis, banyak mana antara Pa'e dan aku tuk followernya ?.
Ita : Ngga tau mas !!!.
Gw : Saya yakin Pa'e ilmu nya jauh berisi ketimbang gw, tapi kowe kudu inget siapa yg jago main sosmed dan kekinian? Gw kan !!!. Yang kenal wartawan, paham bab entertaint siapa? Gw juga kan!. Bapak kan taunya bagi ilmu secara manual doang, Nah disini andai saya banyak tulis tentang agama secara online sebatas kedangkalan yang gw bisa, kira kira banyak mana follower Pa'e dan aku ?.
Ita : Yo nek nang sosmed mesti kuwe menang akeh mas.
Gw : Nah disinilah pangkal ujung kondisi saat ini Ta!. Kalau saya terus teruskan bab share agama, bisa jadi banyak orang percaya dengan saya dan dengan tidak luasnya ilmu saya, akan menjadikan kesimpang siuran. Dengan mudah saat itu aku searching dan share. Kata kata yang sudah kubaca bersifat kaku. Namun karakter kaku beginilah yang disukai generasi saat ini. Maunya simple dan cepat tanpa paham arti sabar dan sebuah proses tuk menjadi bijaksana. Seperti brand syeh siti jenar yang konon katanya hatinya baik hanya saja belajarnya belum usai dan menyebarkan agama. Membuat follower antara sang guru dan dia berselisih paham. Yang lebih dahsyat bukan hanya perselisihan dua kubu, namun masyarakat yang tidak tau menahu opo maneh abangan ikut merasakan imbasnya.
Sambil makan nasi berkat aku lanjutkan lagi.
Gw : Hendaknya Ustad sosmed maupun ustad selebritis paham akan adab. Bilamana menyikapi hal yang genting maka konsultasilah sama yang sudah makan asam garam bab agama dan kehidupan. Janganlah sampai yang tua dikatakan tapir dll. Ilmu itu turun temurun. Tanpa ada yang tua kita tidak akan memiliki ilmu seperti saat ini. Punya follower banyak belum tentu benar. Dan sangat membahayakan sekali bila sebar agama, share agama tanpa menguasai beberapa cabang metode dakwah misal hapal berapa jus al qur'an, hapal berapa ribu hadist. Paham akan fiqih, paham akan sanad, paham akan rawi, paham kitab kuning, paham akan kehidupan, paham akan karakter dan kemampuan/SDM audience dan masih banyak lagi. Jangan di gebyah uyah di samakan antara menyampaikan ke satu dan yang lain. Syarat guru yang baik itu mampu kontrol hawa nafsu, ego, bijaksana, dll. Terlebih guru bab agama sangat pantang pamer bab kekayaan dan popularitas, apalagi dikit dikit kehidupannya di liput sama media. Nikah lah, cerai lah, beli mobil baru lah. Dll.
Guru adalah tauladan bagi yang lain, oleh karena itu guru yang memiliki jiwa ngemong akan sangat paham ini. Mereka akan sangat menjaga apa yg mereka lakukan.
Ita : ok ok mas, paham sekarang. Sebetulnya sudah lama juga sih mas kurang tertarik sama guru yang rajin wara wiri publish kehidupan di TV / gosip. Soalnya kok kesannya gimana gitu.
" mengingat jam sudah setengah satu malam, akhirnya obrolan kami sudahi. Kata bapak sambil melihat berita malam " wes bengi dang turu, sesok mergawe ". Heheheh
