About Me

header ads

IAIN Salatiga, Kampus Berbasis Agama yang Sadar Budaya

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk di halaman Kampus III-IAIN Salatiga dalam rangka peringatan Hardiknas 2018 oleh Ki Joko Sunarno, Rabu malam (09/05) kemarin. [Doc. L17'UN]
SALATIGA – Dalam rangka memperingati Hardiknas, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan–IAIN Salatiga menggelar wayang kulit semalam suntuk di Kampus III, Rabu (09/05) kemarin, oleh Ki Joko Sunarno dan anaknya Anggoro Dwi Sadono dengan lakon ‘Bima Suci’. Acara tersebut bertemakan ‘Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan’. Dengan tema tersebut dapat diartikan, meski IAIN Salatiga merupakan perguruan tinggi berbasis agama, namun tidak berarti meninggalkan budaya jawa wabil khusus wayang kulit, agar tidak mengalami kepunahan.  
Kedua dalang asal Karanggede dan dengan iringan alunan musik gamelan bertempo klasik tersebut, mampu menghipnotis para penonton yang hadir. Buktinya, tidak sedikit penonton tetap setia menonton sampai pamungkas atau selesainya pagelaran wayang kulit tersebut.
Di sesi limbukan, Cangik dan Limbuk mamberikan pitutur luhur untuk penonton, baik kalangan mahasiswa maupun masyarakat yang datang. Namun sebelumnya menyanyikan gendhing–gendhing yang bertemakan pendidikan dan religi, salah satunya gendhing Empat Pilar Kebangsaan, lalu dalang yang terkenal dengan gaya klasik tersebut membedah makna dari masing–masing gendhing yang telah dibawakan.
Setelah limbukan, dilanjut lakon kembali dan diganti anaknya, Anggoro Dwi Sadono (dalang cilik juara III Nasional). Sesi yang ia bawakan merupakan sesi perang gagal. Ia juga mampu menghipnotis penonton yang hadir, dengan gaya perang yang sangat lincah. Bahkan ia mampu memutarkan wayang raksasa berkali–kali, yang ia klaim wayang terbesar se–Kota Salatiga. Sontak seluruh penonton memberikan tepuk tangan. Selain itu, dalang yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut, juga membumbui dengan banyolan–banyolan lugunya ketika ia memainkan wayang kulit.
Sesi goro-goro oleh Ki Joko Sunarno dengan membawakan lagu-lagu dolanan yang berfilosofi tinggi, yang mampu mengusir rasa kantuk penonton. [Doc. L17'UN]
Seusai penampilan dalang cilik yang memukau banyak penonton, kemudian dilanjut lagi sesi goro–goro oleh Ki Joko Sunarno yang ditandai dengan munculnya tokoh Punakawan. Rasa kantuk penonton, hilang seketika saat dalang mengeluarkan tokoh Petruk yang disusul oleh Gareng dan Bagong di belakangnya. Dalam sesi ini, para Punakawan menembangkan lagulagu dolanan, namun berfilosofi tinggi didalamnya. Salah satunya yakni Sluku–Sluku Bathok, lalu lagu tersebut dibedah bait demi bait.
Rektor IAIN Salatiga dan Dekan FTIK (kanan) saat memberikan pesan kesan di sesi goro-goro. [Doc. L17'UN]
Tidak hanya bersenang–senang melalui tembang saja. Namun di sesi tersebut, dalang meminta Rahmad Haryadi (rektor IAIN Salatiga) dan Suwardi (dekan FTIK) untuk ke atas panggung dan memberi pesan kesan pagelaran wayang kulit semalam suntuk itu. Dengan menggunakan tutur kata dan Bahasa Jawa halus, mereka memberikan pesan kesan.
Pagelaran malam ini ngresepaken pak dalang,” kesan singkat Rahmad Haryadi dengan logat Jawa halus.
Setelah mereka berdua memberikan pesan kesan, tepat pukul 02.20 dini hari, dalang tersebut melanjutkan lakon kembali. Pentas wayang kulit semalam suntuk yang digelar di depan Gedung KH. Ahmad Dahlan tersebut, selesai pukul 03.25 dini hari, yang ditandai dengan penancapan wayang gunungan oleh Ki Joko Sunarno dan suwukan dari pengiringnya. Suwukan itu sendiri merupakan tanda berakhirnya musik gamelan Jawa.
Sebelum pagelaran dimulai, acara tersebut juga dimeriahkan oleh Hadroh Rebana Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Sendra Tari Mahasiswa PGMI dan Mahasiswa Prodi terbaru di fakultas tersebut yakni Bimbingan Konseling Islam (BKI).  


Kontributor

LAKNA 17 ‘UN

Posting Komentar

0 Komentar