About Me

header ads

Kampung Pancuran, Kampung Mural yang Berawal dari Kampung Preman

Siapa sangka di tengah kecilnya Kota Salatiga menyimpan seribu cerita dan seribu warna di Kampung Pancuran ? Seperti apa ?
MURAL : Lukisan dinding berbagai karakter di salah satu sudut gang yang ada di Kampung Pancuran, Kota Salatiga, Jawa Tengah. 
[UMI KAMILAH/SALATIGA]

Pena hitam permanen telah menuliskan dalam sejarah hitam pula di Kampung Pancuran, Kota Salatiga. Sebagian dari warga di kampung yang terletak di tengah perkotaan tersebut sering berbuat menyimpang dari aturan negara maupun norma agama. Sehingga kampung yang terdiri dari delapan belas Rukun Tetangga (RT) tersebut dijuluki sebagai kampung ‘nakal’.
Ketua Rukun Warga (RW) IV Pancuran, Budi Gajah mengatakan julukan kampung ‘nakal’ diperoleh tidak lain ulah dari sebagian dari warganya sendiri yang hampir setiap malam selalu membuat resah warga yang lain dengan melakukan tawuran, mabuk–mabuan, bahkan jika ada salah seorang warga meninggal, warga yang lainnya menunggu (lek–lekan, - red) dengan bermain kartu di rumah shokhibul mukhibah. Parahnya lagi, mereka tetap bermain kartu di rumah tersebut meski jenasah telah dikebumikan.
“Kisaran lima belas tahun yang lalu, hal–hal semacam itu sering dilakukan warga Kampung Pancuran ini,” imbuh lelaki bertubuh gemuk tersebut.
Namun ibaratnya sejarah buruk yang telah tertulis menggunakan pena pernamen tersebut Budi Gajah bersama seluruh ketua RT setempat, secara pelan namun pasti mereka telah mampu menghapusnya sedikit demi sedikit pena permanen bertuliskan kampung ‘nakal’ tersebut. dimulai tepat setahun yang lalu, seribu warna yang terlukis dalam diding–dinding rumah warganya mampu menutup sejarah hitam Kampung Pancuran sebagai kampung ‘nakal’. Berawal dari keinginan kuat para pejabat kampung serta dengan didorong oleh warga lain yang sadar dan walikota melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman telah melaksanakan berbagai program seperti penataan kawasan permukiman perkotaan guna mengubah citra positif kampung ‘nakal’ tersebut.
Terbukti pada awal bulan November 2018 lalu kampung yang terkenal dengan ulah nakal warganya tersebut diresmikan oleh Walikota Salatiga, Yulianto, sebagai kampung wisata Pancuran. Tepat di hari Kamis Kliwon, 01 November 2018 peristiwa baru tertulis dalam buku sejarah Kota Salatiga, yang bermula kampung ‘nakal’ menjadi kampung bernilai seni tinggi. Sebab setiap dinding–dinding rumah terdapat lukisan atau sering disebut dengan mural. Hal tersebut merupakan suatu bukti bahwa kampung tersebut mampu mengubah citra negative menjadi positif.
Sebenarnya mural hanya sebagai pendukung saja, yang terpenting Budi Gajah dan ketua RT ingin mengubah citra, perilaku dan image warga yang awalnya terkenal ‘nakal’. Bahkan mengurungkan niat warga kampung lain untuk main di Kampung Pancuran.
“Dulu itu tidak ada orang yang berani masuk kampung ini, karena yang berbau jelek semuanya ada di sini, selain warganya yang ‘nakal’, kumuhlah, kotorlah dan sebagainya, pokok tidak menyenangkanlah ada juga,” jelasnya.
Untuk mengubah semuanya tersebut memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh ketua RW dan RT setempat. Warganya yang berbuat ‘nakal’ justru mereka lindungi.
“Kami merangkul dan membela warga yang sering melakukan perbuatan yang menyimpang. Jujur saja saya tidak rela kalau warga saya ada yang ditangkap polisi. Maka kami harus menyelamatkan mereka. Saya rela ijin kerja hanya untuk mengurus warga saya tersebut,” kenangnya.
Itu semua mereka lakukan tidak lain agar meraka sadar akan kesalahannya. Saat mereka membela warganya yang tertangkap oleh pihak berwajib, banyak pro dan kontra dari warga yang lainnya. ‘Orang salah kok masih aja dibela’ demikian kalimat yang dilontarkan oleh warga yang kontra.
Setelah membela warga yang tercyduk polisi, Budi Gajah bersama dengan Ketua RT kemudian menyadarkannya sedikit demi sedikit. Mereka mengakui memang tidak mudah untuk membangun karakter warga. Butuh waktu selama lima tahun untuk menyadarkan seluruh warganya. Sedikit demi sedikit akhirnya mereka sadar. Bahkan sekarang warga setempat membangun beberapa tempat ibadah, ada musala dan masjid, ada pula gereja dengan top leadernya mantan orang ‘nakal’ tersebut. Dengan demikian akhirnya citra positif pun sebagai imbalan untuk kampung tersebut.
Tiada hal yang tidak mungkin, seperti dalam suatu ungkapan Arab yang amat terkenal di kalangan pesantren yaitu ‘Man Jadda WaJada’ yang artinya barang siapa yang bersungguh–sungguh pasti akan mendapatkan hasil. Ungkapan tersebut telah teruji Kampung Pancuran, yang berawal dari warga yang sering melakukan hal buruk dengan kesungguhan warga yang peduli dapat mengubah menjadi kampung teladan.
Seperti pepatah ‘Where there is a will there is a way’ yang artinya dimana ada kemauan pasti di situ ada jalan. Dengan kemauan keras dari warga yang sadar dan peduli telah menjadikan jalan rejeki untuk kampung ini. Bagaimana tidak ? amat banyak yang dapat ditemukan di Kampung Mural Pancuran terseebut, diantaranya wisata religi di Makam Mbah Nyai Kopek, dengan mengelola tempat tersebut untuk para peziarah, makan dapat mendatangkan pintu rezeki untuk warga yang tinggal di makam tersebut. selain itu di kampung tersebut juga dilengkapi dengan taman baca, bahkan terdapat pula industry kecil karak dan abon, kebun sayur, budidaya ikan disepancang sungai kecil dengan aliran air yang dapat menenangkan jiwa, dan jembatan bertema. Dengan adanya industry kecil tersebut, maka pengunjung juga dapat berwisata edukasi dan budaya di kampung tersebut.
EKSIS : Della Buana Tunggadewi, 22, sedang foto di depan mural Kampung Pancuran. Jumat (07/12) lalu.
[LAKNA TULAS 'UN/BLORA UPDATES]
Kelebihan tersebut ternyata mampu mengundang wisatawan pemburu spot foto terutamanya ada pada adalah kaum hawa. Tidak sedikit gadis muda yang berkunjung di Kampung Pancuran tersebut, Della Buana Tunggadewi salah satunya. Gadis kelahitan 22 tahun tersebut tertarik untuk berburu foto di depan mural kampung tersebut. Ia terkejut ketika mendapatkan kabar bahwa Kampung Pancuran telah berubah menjadi kampung citra positif dan berkarya seni tinggi.
“Setahu saya dulu kampung ini kampung ‘preman’, sekarang kan jadi kampung pelangi gitu cocok buat foto–foto. Jadi menarik lah buat dikunjungi orang–orang dari luar Pancuran maupun luar Salatiga,” jelasnya kepada redaksi saat ditemui di lokasi. Mingu (02/11) lalu.
Meski sejarah hitam dari Kampung Pancuran belum mengetahui secara pasti, namun kesan pertama dari gadis alumni Jurusan Psikologi dari Universitas Kristen Setya Wacana (UKSW) tersebut merasa senang melihat progress Kampung Pancuran yang dulunya terkenal dengan kampung ‘nakal’sekarang menjadi Kampung Mural atau Kampung Pelangi yang menarik untuk dikunjungi warga sekitaran Pancuran, di luar Pancuran maupun di luar Salatiga. [UMI. K / LAKNA 17 ‘UN]

Posting Komentar

0 Komentar