DPRD Blora Sesalkan Tragedi Sumur Minyak: Regulasi Baru Justru Picu Gejolak di Masyarakat


Blora – Tragedi kebakaran sumur minyak rakyat di Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Blora, yang merenggut tiga nyawa dan melukai dua orang, akhirnya mendapat sorotan tajam dari DPRD Kabupaten Blora. Para wakil rakyat menilai peristiwa ini sebagai bukti nyata lemahnya pengawasan dan kebijakan yang tumpang tindih.

Ketua Komisi A DPRD Blora, Supardi, mengungkapkan duka mendalam sekaligus kekecewaannya. Menurutnya, tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan alarm bahaya dari pengelolaan sumur minyak liar yang selama ini dibiarkan.

"Nyaris tak terbendung. Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 justru menjadi pemicu gejolak baru di lapangan. Masyarakat bingung, sementara praktik pengeboran ilegal terus berjalan tanpa standar keselamatan," tegas Supardi di Blora, Senin.

Supardi yang akrab disapa Mbah Pardi itu menekankan bahwa potensi migas di Blora memang tinggi, tapi sayangnya tidak diimbangi dengan edukasi dan pendampingan yang memadai. Akibatnya, keserakahan ekonomi mengalahkan naluri keselamatan.

"Kami prihatin, tapi bukan hanya sekadar prihatin. DPRD mendorong semua pihak—Pemkab Blora, Pertamina, hingga aparat penegak hukum—untuk segera duduk bersama. Jangan hanya saling tunjuk jari. Ini darurat," ujarnya tegas.

Ia juga menyoroti praktik pengeboran yang tidak sesuai standar. Menurutnya, penertiban harus dilakukan segera, namun dengan pendekatan yang manusiawi. "Jangan sampai rakyat kecil yang jadi korban kebijakan yang abu-abu. Solusi legalisasi sumur rakyat harus segera diwujudkan, karena kalau tidak, ledakan seperti ini bakal terulang lagi," imbuhnya.

Tak hanya itu, Supardi memastikan DPRD akan mengawal ketat regulasi dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan jiwa. DPRD juga mendukung penuh aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas tragedi ini.

"Jika terbukti ada kelalaian sistemik atau kesalahan terstruktur, aparat jangan ragu bertindak. Dukungan penuh dari kami. Tak boleh ada lagi air mata di Gendono karena ulah ketidakpedulian bersama," pungkas Mbah Pardi.

Posting Komentar

0 Komentar