Blora Updates - Ki Gondori Tokoh Blora Episode Pertama mendapat apresiasi yang cukup bagus. Dan kini oleh pemuda asal Desa Pelem kec Blora, dirilis kembali lanjutannya ( seri 2 ).

Artikel kali ini adalah sambungan cerita episode kedua. Si Anoman tidak hanya bertanya tentang itu saja, tetapi juga bertanya tentang Kitab Tapal Adam dibagi menjadi berapa ? Menurut penjelasan dari Ki Jan nDorik, Ki Lurah Semar menjawab Kitab Tapal Adam dibagi menjadi lima, yakni Adam Tunggal, Adam Banulyan (waktunya 4 tahun), Adam Hiyan, Adam Jajil (Syaiton), dan Adam Sampurno.

------

Lalu pertanyaan yang ketiga, si Munyuk Putih ini bertanya tentang ‘Tumapaking Galih Gangkung lan Tepaking Kuntul Nglayang’, itu semua menjelaskan tentang bibit manusia, bagaimana diciptakan, dari apa diciptakan, dan lain sebagainya. Itu semua dapat kita kaitkan dengan ajaran agama Islam, yakni manusia diciptakan dari segumpal darah seperti dalam Q.S. Al–‘Alaq yang berbicara tentang proses penciptaan manusia. Lalu Ki Jan nDorik membenarkan pernyataan tersebut.

Kemudian pertanyaan ke empat dari si Munyuk Putih kepada Ki Lurah Semar, yakni tentang jati diri dari orang yang sudah meninggal, jadi berapa banyak orang yang telah wafat. Menurut tuturan Ki Jan nDorik, Ki Lurah Semar pun menjawab jati diri wong mati itu ada empat, yakni Pati Pesti (kalau belum saatnya, kita tidak akan mati), Pati Janji (contohnya orang yang bunuh diri seperti gantung diri dan lain–lain), Pati Billahi (contohnya orang yang kecelakaan dan tewas seketika di TKP) dan Pati Sampurno (orang yang meninggal karena sudah ditakdirkan dari Gusti Allah). Pesan dari Ki Jan nDorik, jika mau menulisnya harus sesuai urutan seperti yang telah ia jelaskan.

Kemudian pertanyaan si Munyuk Putih yang terakhir yakni, tentang ‘sifating urip’. Sifating urip ini ada dua puluh, itu semua sesuai dengan aksara Jawa dan tempatnya ada di atas langit serta kudung atau payungnya angkasa. Ini sangat dalam sekali maknanya, ia berkeyakinan bahwa semua dalang se-Kabupaten Blora tidak dapat mengupas tuntas tentang makna atau filosofi dari aksara Jawa ini. Ini diperjelas atau dipertegas oleh Siti, salah satu tetangganya, apa yang dikatakan oleh Ki Jan nDorik itu memang benar. Konon cerita, dalam istilah Jawanya ia ‘ketiban pulung’ maksudnya ia mendapatkan wahyu dari Gusti Allah sebelum menjadi seorang dalang. Sehari sebelum pentas, di rumahnya pasti ada cahaya yang datang dari langit dan jatuh di halaman rumahnya, orang jawa kuno biasa menyebutnya dengan pulung. Tidak semua orang dapat melihat pulung yang jatuh dari langit ini, biasanya almarhumah neneknyalah yang bisa melihat penampakan tersebut. Tidak hanya itu, saat pentas dimulai pasti ada seekor kupu–kupu yang hinggap di keris yang ia pakai saat menjalankan tugasnya sebagai dalang, tidak diketahui darimana datangnya kupu–kupu tersebut. Sepintar apapun dalang di masa itu, tidak akan bisa menjelaskan filosofi dari aksara Jawa yang merupakan sifat orang hidup di muka bumi ini. 

Kembali ke topik bahasan, jadi dengan kata lain sifating urip ini makna atau filosofi dari aksara Jawa, bukan bermakna Ha–Na–Ca–Ra–Ka, Da–Ta–Sa–Wa–La. Iki cerita, jaman semono… Pa–Da–Ja–Ya–Nya, Ma–Ga–Ba–Tha–Nga. Iki cerita, saka wong tua… seperti dalam lagunya Didi Kempot yang berjudul Kuncung. Adapun filosofi dari aksara Jawa tersebut yakni aksara ‘ha’ bermakna ‘Hanghyang Maha Suci’, ia mengaikat ini dengan makna dari sila pertama dalam Pancasila serta dalam ajaran Islam mengaitkan tentang bertakwa kepada Allah swt.


Kemudian aksara ‘na’ memiliki arti atau werdi dalam Bahasa Jawa ‘Nadyan urip kepenak, nanging ora pisah marang alangan’, artinya walaupun sudah hidup enak dan serba kecukupan, akan tetapi manusia tidak pisah dengan halangan dan rintangan yang menghadang di depan kita.

Bersambung ke Episode 3.

Penulis

LAKNA 17'UN