Rr. Wuri Aerenggoasih, M.I.Kom, seorang dosen berdarah biru yang rendah hati dan bersahaja. [Doc. L17'UN]
Wuri merupakan sapaan akrab dari Rr. Wuri Aerenggoasih, salah satu dosen di IAIN Salatiga. Mempunyai gelar ‘Rr’ di depan nama asli tidak membuat Wuri menjadi sombong dan selalu ingin dihormati dengan siapapun bak raja tempo dulu.
Banyak sekali kelebihan yang menjadi daya pikat dari Wuri, diantaranya yakni dosen muda dan cantik serta berdarah biru. Meski demikian, dosen yang berdomisili di salah satu Perumahan di Ungaran, Jawa Tengah ini tetap hidup bersahaja. Wajar saja jika ia sangat akrab dengan masyarakat sekitar dan dosen maupun mahasiswa di tempat ia mengajar, sebab dengan siapa pun, ia selalu menaruh hormat. Tidak ada gelamor sama sekali layaknya penampilan artis ibukota yang kerap dipertontonkan di media.
Ketika awal pertemuan kuliah di minggu pertama, beberapa mahasiswanya memang sempat bertanya mengenai arti dari ‘Rr’ yang terletak di depan nama aslinya. Namun Wuri meminta tidak usah menghiraukannya.
“Sudah, tidak perlu dibahas. Itu pemberian dari orang tua saya sejak lahir dan dipakai di identitas saya sampai sekarang,” jawab Wuri dengan logat khasnya yang hampir sama dengan Syahrini.
Perlu diketahui, Rr merupakan singkatan dari Raden Roro, yakni gelar resmi untuk cucu perempuan susuhunan dalam darah ningrat atau bangsawan dari keturunan para raja di Pulau Jawa.
Selain itu, Wuri juga sangat bertanggung jawab terhadap tugas pokoknya sebagai dosen yakni mengajar mahasiswanya. Awal bulan Mei lalu, ia mendapatkan panggilan untuk mengikuti suatu pelatihan yang bersifat wajib selama satu bulan lamanya. Pelatihan tersebut, membuat waktu mengajarnya menjadi berkurang empat kali pertemuan, sehingga ia harus membuat ide agar kedua tugasnya tersebut berjalan semestinya.
Wuri Aerenggoasih ketika sedang menunggu mahasiswa kelas 'Metodologi Penelitian Komunikasi' untuk konsultasi tugas proposal penelitian. Konsultasi tersebut dilakukan sampai dengan sore hari. [ISTIMEWA/Doc. Pribadi]
Supaya Wuri dapat mengikuti pelatihan dan tidak meninggalkan tugas pokoknya sebagai dosen, akhirnya ia memberikan tugas sesuai matakuliah yang diajarnya. Tugas untuk mahasiswa kelas Jurnalistik Online yakni kuliah praktik di lapangan dengan liputan langsung, lalu mengupload hasil liputannya di media sosial milik mahasiswanya masing–masing. Sedangkan tugas untuk mahasiswa kelas Metodologi Penelitian Komunikasi, Wuri memberikan tugas membuat proposal penelitian. Meski demikian, Wuri tetap dan selalu memonitoring mahasiswanya.


Reporter,

LAKNA 17 ‘UN