![]() |
| Lakna Tulas Sang Penulis Bersama Ki Gondori |
Blora Updates - Ki Gondori atau Ki Dalang Gondo Carito lebih dikenal dengan Ki Jan nDorik dalang Pelem adalah salah seorang dalang dari Desa Pelem RT. 001 RW. II, dengan nomor rumah 05, Kecamatan Blora (Kota), Kabupaten Blora yang berumur 66 tahun dan berprofesi menjadi seorang dalang sejak dari kecil. Berikut biografi dan profil lengkap dari Jan nDorik. Ia lahir di Kota Blora pada tanggal yang tidak jelas (karena zaman dahulu tidak memakai patokan tanggal hanya saja hari kelahiran) yakni di hari Kamis Legi, tepatnya lahir pada tahun 1951. Dibesarkan dalam keluarga yang amat kaya di zaman tersebut. Bapaknya bernama Kasbi atau sering dipanggil dengan Mbah Bi, dan ibunya bernama Soemarni atau sering dipanggil dengan Mbah Ni. Sejak kecil ia memang sudah bercita–cita menjadi seorang dalang, menurutnya dari silsilah keluarga memang dari keluarga besar dalang. Ia merupakan keturunan ke tujuh yang menjadi dalang. Adapun urutan silsilah keturunan dari Jan nDorik yakni, Ki Tarjo, Ki Cermo, Ki Ngarip, Ki Sariban, Ki Wiro, Ki Salimin (Kamolan) dan Ki Gondori yang menjadi dalang termuda di garis keturunan Keluarga Kasbi.
Apa sih yang unik dari dia ? Keunikan dia banyak sekali, sehingga saya tertarik untuk menjadikan sebuah tulisan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknik Wawancara dengan dosen pengampu Mrs. Muna Erawati yang juga salah satu doctor muda di IAIN Salatiga.
Kembali ke topik bahasan mengenai keunikan dari Ki Jan nDorik, ia mempunyai banyak sekali keunikan, salah satunya yaitu ‘golek duit sinambi berdakwah’. Ya, itulah kalimat yang tepat untuk Ki Jan nDorik yang saya berikan kepadanya sebagai gambaran keunikan dari dalang yang berasal dari Desa Pelem ini. Kenapa sihh, kok kalimat ‘golek duit sinambi berdakwah’ yang cocok untuk menggambarkan keunikan dari sosok yang saya tulis ini ? Kalimat tersebut amat cocok, karena disaat mencari uang ia juga menyelipkan beberapa ajaran Agama Islam. Maksudnya seperti ini, ia merupakan seorang dalang yang pada saat ia laku dan pentas di suatu tempat, entah itu acara walimatul ‘ursy atau pernikahan, walimatul khitan atau sunatan, ruwatan/murwakala atau di dalam tradisi Jawa wabil khusus di Jawa Tengah jika mempunyai anak tunggal maka orangtuanya wajib untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit, dan lain sebagainya, dalam pentasnya tersebut ia pasti menyelipkan ajaran–ajaran Islam di dalam pertunjukan yang ia bawakan. Sehingga dalam tulisan ini, saya memberikan judul Ki Gondori Sosok Walisongo Masa Kini. Kenapa sihh, saya membuat judul seperti itu ? Karena menurut sepengetahuan saya setelah mengikuti sekolah dan kuliah selama kurang lebih 15 tahun, para Walisongo khususnya Raden Said yang diperkirakan lahir pada tahun 1450 atau nama panggungnya Sunan Kalijogo memanfaatkan media budaya yakni wayang kulit untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nahh… Karena alasan itulah, saya memberikan judul Ki Gondori Sosok Walisongo Masa Kini dalam tulisan ini.
Saat pentas, ia pasti menyelipkan ajaran–ajaran tauladan dari Jawa, dan ajaran–ajaran tersebut juga ada dalam ajaran agama Islam. Lakon yang sering ia bawakan saat pentas, salah satunya adalah ‘Semar mBabar Jati Diri’. Dalam cerita ini, banyak sekali ajaran–ajaran yang dalam meneliti hidup di dunia ini serta sesuai dengan ajaran Islam. Saat saya wawancarai beberapa waktu yang lalu, ia sempat menerangkan atau memberikan synopsis cerita dari Semar mBabar Jati Diri. Adapun synopsis ceritanya yakni dalam cerita tersebut Anoman si Kethek Putih bertanya kepada Ki Lurah Semar, bukan sowan kamar dan membawa Sinta kembali pulang ke rumah dan kembali ke pelukan si Rama setelah diculik oleh Rahwana seperti dalam lagu Jawa yang diciptakan oleh Ranto Edi Gudel (ayahanda dari Didi Kempot) yang juga dinyanyikan oleh sang Maestro Didi Kempot berjudul Anoman Obong. Akan tetapi si Munyuk Putih ini maneges atau bertanya kepada Semar tentang kapan matinya. Lalu Ki Lurah Semar dapat menjelaskan akan tetapi menunggu setelah parikesit dan menunggu setelah Brontoyudho serta menunggu berdirinya Kerajaan Kediri Dhoho atau sekarang disebut dengan Kabupaten Bojonegoro yang terletak di Jawa Timur. Setelah semua itu, barulah si Munyuk Putih ini mati.
Si Anoman tidak hanya bertanya tentang itu saja, tetapi juga bertanya tentang Kitab Tapal Adam dibagi menjadi berapa ? Menurut penjelasan dari Ki Jan nDorik, Ki Lurah Semar menjawab Kitab Tapal Adam dibagi menjadi lima, yakni Adam Tunggal, Adam Banulyan (waktunya 4 tahun), Adam Hiyan, Adam Jajil (Syaiton), dan Adam Sampurno. ( Bersambung seri 2 )
Penulis
Lakna 17'Un
